Memahami Latar Belakang, Menafsirkan Dan Merenungkan

Lambang (Coat Of  Arms)

Rm. Agustinus Tri Budi Utomo, Pr

 

 

         Seorang Uskup, setelah ditunjuk oleh tahta suci, selalu diminta membuat lambang  dan motto bagi dirinya.  Demikian juga Msgr. Vincentius Sutikno Wisaksono. Lambang Uskup biasa disebut Episcopal Coat Of Arms.

             Sebagai orang yang senang  menikmati gambar, saya tertarik untuk merefleksikan visi episkopat Uskup baru ini melalui  lambang atau logo beliau. Bukan bermaksud memberikan penjelasan resmi arti lambang keuskupan, tetapi suatu penafsiran dan permenungan.

             Pertanyaan awal yang membersit di benak saya, setelah mendengar penunjukan Msgr. Vincentius Sutikno Wisaksono sebagai Uskup, salah satunya adalah, gambar macam apa yang akan menjadi lambang (Coat of Arms) beliau ? Saya menganggap pertanyaan mengenai lambang  ini tidak sepele. Bahkan mendasar dan malah bisa menjadi pintu gerbang untuk memahami citra diri Uskup tentang jabatan yang diembannya. Saya merasa bahwa umat dan para imam akan lebih mudah memahami visi dan misi beliau terhadap keuskupan ini, jikalau mereka memahami simbolisme yang beliau rangkai dalam lmbang episkopatnya. Saya beruntung karena diajak oleh beliau diskusi ketika beliau merancang sketsa lambang Episkopat tersebut.

Apa Itu  Coat of Arms ? Apa Bedanya Dengan Logo ?

             Disebut  Coat Of Arms karena memang gmbar tersebut disusun dari sekumpulan sibol yang dirangkai dengan formasi tertentu untuk ditempelkan atau melapisi (mahkota, bubungan rumah, bendera, perisai, baju, panji-panji dan sebagainya). Rangkaian simbol tersebut biasa dipakai tertempel (bandingkan dengan badge, emblem) di lengan seorang tentara (pasukan) atau tersulam pada panji-panji (banner) bentara atau herald / harbinger (herald juga bermakna  pesan penting bagi raja / khalayak). Lambang tersebut menunjuk pada identitas sebuah pasukan atau klan keluarga tertentu (Family Crest), biasanya untuk keluarga raja atau bangsawan.

             Tradisi Coat of Arms berusia sudah cukup lama di dunia kerajaaan, Eropa khususnya. Standar pembakuan sudah ada sejak awal abad ke 12. Bartolus de Saxoferrato, seorang Professor Hukum di Universitas Padua sudah menulis secara khusus tentang hal itu dalam buku De Insigniis Et Armiis pada tahun 1350.  Ilmu khusus yang mempelajari tentang Coat of Arms dinamai heraldry. Tradisi tentang Coat of Arms juga terjaga sangat baik dalam tradisi tahta Paus, Kardinal dan Uskup.  Di Vatikan ada biro khusus, di bawah seorang Kardinal tertentu, yang menjaga tradisi Coat of Arms para pucuk pimpinan Gereja Katolik ini. Keseriusan ini menunjukkan adanya sesuatu yang penting dan bernilai di balik simbolisme dan ketentuan bentuk lambang seorang uskup. Lambang seorang uskup bersifat heraldic karena membawa pesan penting  perutusan dari dalam lubuk terdalam dan komitmen seorang Uskup bagi Tuhan dan keuskupannya. Coat of Arms bukanlah sekedar logo.

             Logo adalah suatu bentuk gambar atau sketsa dengan arti tertentu untuk mewakili suatu arti dari perusahaan, daerah, kelompok, produk dan hal-hal lain yang dianggap membutuhkan penyingkatan, supaya mudah diingat sebagai ganti dari nama sebenarnya. Maka logo sering dikaitkan dengan  trademark and brand. Sedangkan  Coat of Arms dalam tradisi  Roman Episcopal Heraldry’ dipahami bukan sekedar sebagai logo identitas melainkan autoritas dan martabat. Maka Vatikan sangat serius menjaga tradisi lambang episkopal ini. Ini masalah pewarisan kuasa ke-rasul-an. Dengan melihat lambang tersebut, dimaksudkan untuk memahami otoritas dan iurisdiksi yang diemban seorang uskup.

Lambang Episkopal Dalam Tradisi Gereja Katolik

             Pada prinsipnya, pola dasar lambang episkopat seorang tertahbis memuat  5 simbol utama: topi, tessel (simpul tali), salib prosesi, tameng / perisai, dan motto yang dituliskan di bendera panji-panji (banner, motto scroll).

 

1.  Topi. Merupakan simbol otoritas suci dan martabat yang diberikan dari Tuhan sendiri. Kalau Paus adalah Mitra, kardinal pakai topi ungu violet, uskup pakai topi warna hijau.

2.  Tessel. Pada umumnya ruang diluar perisai disebut sebagai ornamen pendukung. Ada yang berupa gambar singa, garuda atau yang lain. Dalam lambang episkopat menggunakan gambar tessel (tali pengikat pingang seorang gembala). Tali berujung rumbai ini menunjukkan simpul tali pengikat janji seseorang yang ditahbiskan sebagai gembala. Tessel di tingkat pertama adalah simpul tahbisan diakonat, kedua:  imamat, ketiga, episkopat (uskup). Keempat: uskup agung, kelima: Kardinal. Jadi lambang seorang  Uskup ada enam tessel di kiri dan kanan. Jumlahnya 12 berwarna hijau.

3.  Salib Prosesi. Simbol Penggembalaan Kristus (baculum pastoralis). Lambang seorang kardinal  memakai salib ber-palang dobel (double traverse) sedangkan untuk uskup berpalang satu. Seorang uskup, sebagai Rasul Kristus, dipilih untuk menjadi gembala yang siap berkorban demi domba-dombaNya. Untuk tahta suci memakai gambar dua kunci Petrus berkepala salib.

4. Perisai (Shield). dalam tradisi perlambangan, bentuk perisai ini beranekaragam tergantung budaya daerah asalnya. Perisai adalah lambang perlindungan terhadap serangan senjata musuh. Perisai biasanya dibagi menjadi dua, tiga, atau empat ruang. Dalam Ruang –ruang ini diletakkan symbol falsafah atau teologi yang dipegang sebagai perisai atau visi keuskupan.

5.  Banner atau Scroll. Dalam pita yang seakan berkibar ini dituliskan motto episkopat.

 

 Proses Lambang Episkopat Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono

             Sedikit banyak saya mengenal Msgr. Vincentius Sutikno Wisaksono.  Beliau adalah orang nyeni, suka memahat dan menggambar.  Kalau uskup lain banyak meminta orang lain untuk membuatkan lambang episkopat mereka, seperti misalnya Kardinal keuskupan Agung  Jakarta, Uskup Agung Semarang dan Uskup lain meminta tolong Rm. YB. Mangunwijaya, Pr, saya yakin Mgr Sutikno akan membuat sendiri. Dan ternyata betul, beliau merancang dan membuat sketsa untuk lambang episkopatnya sendiri.

             Berawal dari kebelumtahuan tentang ketentuan lambang episkopat, Mgr Vincentius menuangkan kreasi simboliknya sejarah panggilan beliau dengan aneka gambar. Namun dalam perjalanannya sketsa beliau mengalami pengurangan dan penyederhanaan dengan mempertimbangkan koreksi dari Roma. Ketika saya mengusulkan gambar bintang dan merpati di atas topi ternyata tidak diperbolehkan oleh Roma.

             Nampaknya, untuk mudahnya melakukan koreksi sewaktu-waktu karena tergantung inspirasi yang mood-Uskup kita ini bisa muncul tiba-tiba serta menghindari kerepotan formalisme, seperti biasanya Monseigneur kita ini tak terlalu suka dengan yang terlalu kaku formal, maka penggarapan akhir dengan komputer dipercayakan kepada Sam Sebastian Aryono, yang adalah keponakan beliau. Kami berdua kontak lewat email berkenaan dengan gambar lambang ini.

             Rancangan jadi tahap pertama pada tanggal 1 Mei 2007 dikirim ke Vatikan lewat email. Ternyata  pada tanggal 7 Mei 2007 sudah dijawab oleh Mr. Renato Polleti, orang yang dipercaya Vatikan untuk mengoreksi lambang keuskupan, juga lewat email. Jawaban itu berbunyi demikian:

             I received your kind email with the image of the coat of arms of Bishop Vincent. Beeing honest, I have to underline some heraldic mistakes. First of all, the dove with the star cannot stand outside the shield; the symbols must stay inside the shield and only the external ornaments can be outside, like the hat and the processional cross (which doesn't appear here and it has to be reported); the hat and the tassels have to be green (colour of bishops and archbishops, red is the colour of the cardinals); the motto has to be inscribed in a regular scroll: Then, there are some rules about the colours in heraldry. To show my style and to clear some tules, I enclose some coat of arms I recently prepared for some Bishops. If Bishop Vincent wants me to prepare some sketches of the coat of arms, I am deeply available and honoured to help him. Best greetings from Rome.

 

             Saya tahu talenta seni Msgr. Sutikno sejak saya masih di seminari menengah Garum, beliau adalah pembimbing rohani saya.  Dengan saya, beliau lebih banyak cerita dalam kerangka bereksplorasi seni dari pada tema tema rohani. Beliau menceritakan bahwa ketika di seminari juga pernah jadi ilustrator majalah seminari. Relasi macam itu berlanjut ketika beliau kembali dari Filipina dan menjadi rektor di Seminari Tinggi Giovanni. Saya semakin mengenal insting seni dan pola simbolisasi beliau ketika saya diajak menggarap kapel  Seminari Tinggi Interdiosesan Giovanni XXIII. Kebetulan banyak kecocokan dalam persepsi terhadap simbol. Namun lebih tepat kalau saya sebut dia adalah pimpinan yang terlalu rendah hati dalam menerima kegilaan saya. Sejak dulu saya tergila-gila dengan pola segitiga sebagai lambang kesempurnaan Allah Tritunggal menjadi pola setiap kesempurnaan.

             Kalau seluruh filsafat hidup budaya Timur dalam mendugai misteri kehidupan dan kosmos dilambangkan dengan lingkaran, maka bagi saya  bentuk segitiga sama sisi adalah lambang kesempurnaan kosmos dan proses kehidupan kristiani.  Itulah sebabnya background kapel seminari Giovanni ada bentuk segitiga yang membingkai salib dan kebangkitan Kristus di atas Tabernakel dan gambar Kitab Suci. Secara sugestif, segitiga sama sisi adalah sebuah bentuk kesempurnaan yang menarik segala hiruk-pikuk kegelisahan manusiawi dari dasar-bawah (mundane-humus-hominis) mengalir menuju atas (extra mundane-divinus), hanyut terserap menuju keheningan di sudut atas. Dari dasar yang melebar semakin mengerucut ke atas, semakin memfokuskan suasana hati, seraya semakin mendongakkan kepala, maka kekhusukan kalbu semakin terbentuk menuju satu titik di sudut atas  yang sedang menunjuk ke samudra lepas semesta misteri. Suatu misteri kesempurnaan yang ber-“pribadi” dan ber-“ekonomi” triniter bagi seluruh paradigma tradisi Kristiani.

             Latar belakang epistemologis tersebut kembali saya angkat ketika dimintai komentar atas gambar sketsa beliau.  Beliau mengiyakan secara mendalam bahwa seluruh lambang episkopat dibingkai dengan garis lengkung imaginer segitiga sama sisi.  Segala simbolisasi atas pengharapan, cita-cita, visi, misi dan program keuskupan ini berpartisipasi dan dibingkai  dalam ruang “rahim” Allah Tritunggal.  Ad maiorem Dei Gloriam, semuanya dipersembahkan dalam kandungan dan kemuliaan Allah Tritunggal.   Lambang Episkopat akhirnya bernuansa feminin. Semua hasil yang dilahirkan, semua peristiwa yang terjadi dalam masa episkopat beliau  biarlah  dilahirkan dari kandungan rahim Allah Tritunggal sendiri. Jangan sampai  hasil rekayasa manusia belaka melainkan kerjasama sinergis penuh cinta antara natura (daya manusiawi) dan gratia (rahmat ilahi). Refleksi  dimensi feminin ini saya temukan setelah hasil akhir editing draft pertama selesai. Tangan terampil dan komputer grafis Sam Sebastian dipakai Roh Kudus untuk menampilkan dimensi indah ini. Sam memang lulusan design grafis yang saya kenal sejak kecil suka menggambar. Saya dan Mgr. Sutikno meminta Sam supaya seluruh simbol ini terangkai dalam bingkai imaginer segitiga sama sisi. Ternyata Sam mengembangkannya menjadi segitiga dengan sisi garis lengkung. Suatu bentuk “rahim”. Luar biasa, suatu blessing in disguise. Dan jadilah suatu kesatuan symbol yang indah sekaligus kaya makna.

Pemaknaan Dalam Lambang Episkopat Msgr. Vincentius Sutikno Wisaksono

             Jikalau secara sekilas kita memandang lambang episkopat ini, kita akan menangkap dua hal: dinamika alam laut dan nuansa feminin. Saya menangkap dua pola pandang yang  sepertinya menjelaskan kepada kita penyeimbangan terhadap kesan terhadap Gereja yang  statis-organisatoris dan terlalu maskulin. Lambang uskup ini memberi kesan dinamika dan kelembutan.

            Msgr. Sutikno tidak memakai gambar perisai perang tetapi perahu. Gambar ini mengingatkan kita bahwa Gereja adalah bahtera yang terus berlayar mengarungi samudra sejarah. Namun titik pusat seluruh bidang segitiga imaginer terletak pada cincin pengikat tali di kepala jangkar. Dinamika dan fleksibilitas mengarungi jaman dengan tetap berjangkar pada tradisi Magisterium  Gereja. Lebih dari itu, jangkar itu sendiri adalah bagian utuh dari lingkaran pembingkai salib yang menjadi perisai di ujung depan lambung kapal. Satu-satunya perisai dalam peziarahan hidup hanya ada pada hidup yang berjangkar pada salib Tuhan (Gal 6:14).  Pada salib, cinta sampai pada kesudahannya (Yoh 13:1).

         Garis vertikal ujung kapal membelah lambung depan kapal menjadi dua sisi: kanan dan kiri. Masing masing memuat dua simbol. Lambung kanan kapal bagian atas adalah gambar Piala dan Hosti yang bercahaya. Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan Kristiani (Katekismus Gereja Katolik, artikel 1324-1327). Ekaristi adalah sumber kekuatan jabatan Imam (KGK art. 1566). Kepenuhan Imamat pertama-tama adalah menjadi pelayan Ekaristi Kristus.

             Bagian bawah: padi, kapas, dan setangkai daun zaitun yang melambangkan Shalom. Damai dan keadilan adalah satu ikat, Tidak ada damai tanpa keadilan dan tak akan ada keadilan tanpa damai. Damai dan keadilan harus saling berpelukan (Mzm 85:11).

             Di lambung sebelah kiri bagian atas ada tongkat gembala seorang uskup. Bagian bawah ada gambar tugu pahlawan kota Surabaya. Rm. Sutikno ditahbiskan menjadi uskup Surabaya. Dua gambar ini menunjuk pada yurisdiksi dan inkardinasi teritorial. Beliau diangkat menjadi Gembala bagi umat keuskupan Surabaya. Cara penggembalaan yang mesti sungguh-sungguh  berjangkar pada konteks perjuangan umat Katolik bahkan masyarakat Surabaya (Jawa Timur). Tugu melambangkan kenangan perjuangan sejarah dan sekaligus keteguhan hati yang mesti ditegakkan. Tugu Pahlawan adalah juga simbol perjuangan arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan. Dalam perjalanan sejarah yang semakin kompleks, heroisme dan kenekatan arek-arek Surabaya mengalami bias nilai dan kepentingan sehingga terbentuklah fenomena bonek, heroisme dan triumpalisme bondho nekat. Dalam kerangka moral, nekat  adalah kutup ekstrim di seberang “takut”’. Dan bukan itu yang dimaksudkan dengan perjuangan. Perjuangan mestinya merupakan keberanian dan keteguhan hati karena membela dan memperjuangkan nilai kebenaran. Tepatnya lagi, yang disimbolkan dengan tugu pahlawan adalah energi dan keteguhan yang dibutuhkan untuk memperjuangkan nilai-nilai Kerajaan Allah bagi masyarakat Keuskupan Surabaya.

             Tugu Pahlawan dan Jangkar adalah suatu tambatan prinsip.  Tugu adalah tonggak yang menjulang ke langit di atas tanah, semacam gunung. Jangkar adalah tambatan kokoh  yang menghunjam ke batu karang di dasar kedalaman laut. Bukan sekedar mikul dhuwur mendhem jero tetapi juga ketegasan ekspresi dan sekaligus kedalaman kontemplasi / internalisasi. Ekspresi kreatif sekaligus mendalam. Suatu kebebasan dan ketegasan ekspresi  dengan prinsip normatif yang kokoh- mendalam (in altum) sangat dibutuhkan dunia saat ini.

             Sebagaimana diserukan Paus Benediktus XVI di awal pontifikatnya, ancaman terbesar posmodernitas saat ini adalah pluralitas tanpa kebenaran, kebebasan tanpa tanggungjawab serta keterbukaan tanpa prioritas nilai. Hal ini nampaknya juga menjadi feeling bawah sadar Msgr. Sutikno, yang sejak masa kecil hidup di lingkungan pesisir / budaya pelabuhan. Hal ini nampak juga dalam simbolisasi lambang episkopat beliau. Ada gambar piala, padi dan kapas (agraris), daun zaitun (dunia agraris timur tengah), tongkat gembala, tugu, dan kapal. Banyak hal dari aneka budaya dan kepentingan masuk dalam bingkai hatinya. Terbuka lebar bagi kreasi apapun, sebagaimana pantai dan pelabuhan terbuka bagi siapapun. Siapa saja boleh bersandar dan bertransaksi. Pelabuhan adalah budaya tanpa batas. Demikian juga dunia posmodern ini, dunia menjadi sebuah kampung nelayan dibibir pelabuhan. Tanpa batas! Yang ada hanyalah garis maya horizon laut, garis pantai tanpa ujung, dan lengkung langit tanpa hingga. Maka dalam budaya semacam ini diperlukan kompas kepastian. Bagi beliau kompas itu adalah jangkar teologis dan tugu moral yang kokoh.

             Last but not least, tali ikat pinggang gembala berujung 12 tessel yang tengahnya tersimpul di dalam topi episkopat itu membentuk dua huruf “M” dan meliuk lentur simetris menaungi seluruh kapal. “M” tersebut adalah singkatan dari nama Maria. Uskup baru ini dengan rendah hati menyadari seluruh perjalanan episkopatnya dijalani bersama Bunda Maria. Bunda Maria –lah orang yang paling pertama mengenal dan menyelami  hati Yesus dan Gereja awali. Uskup kita ini,  sebagaimana terjadi dalam mujizat perkawinan di Kana (Yoh 2: 1-11), meyakini akan  kekuatan adikodrati dalam kehadiran Bunda Maria. Bersama dan dalam lindungan doa Maria beliau merasa dikuatkan dan berjalan di jalur yang benar menuju Sang Putra. Bersama kehadiran Bunda Maria, tak ada kecemasan. Bersama Maria ada mujizat yang berkelimpahan, dan anggur yang selalu baru.

             Jadi lambung kanan kapal menggambarkan dimensi teologis dan lambung sebelah kiri menyatakan dimensi pastoral dan komitmen teritorial-kontekstual-inkarnatif. Tentu bagi orang yang mengenal masa kecil Mgr. Sutikno tidaklah kesulitan menerka bahwa semua simbolisasi yang dia pakai tidak lepas dari latar belakang masa kanak-kanak beliau. Semasa kecil, beliau hidup di Perak, Surabaya, dekat dunia laut dan pelabuhan. Ketika masih kecil beliau sering menemai seorang misionaris yang setia dalam perutusan penggembalaan. Kenangan  hidup keseharian dan pengalaman iman sebagai misdinar di masa kecil sangat mewarnai visi episkopal beliau.

             Lambang episkopal adalah suatu karya seni. Namun bukan sekedar seni untuk seni. Di akhir tulisan ini perkenankan saya  mengutip ungkapan Giles Dimock OP, yang secara  feminin mengatakan: “...of their nature, the art are directed toward expressing in some way the infinite beauty of God in works made by human hands”. Semoga lambang episkopat uskup baru ini menjadi salah satu sumber inpirasi dan kontemplasi bagi para imam dan seluruh umat katolik di keuskupan Surabaya. Semoga seluruh karya penggembalaan beliau sungguh mencerminkan keindahan dan kelembutan rahim Alllah Tritunggal yang merencanakan keselamatan bagi Keuskupan Surabaya.