Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10)

****

       Ego veni ut vitam habeant et abundantius habeant, inilah motto Uskup Surabaya yang diambil dari Injil Yohanes 10:10. Ada dua versi terjemahan bahasa Indonesia terhadap kutipan tersebut, ialah: “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (versi Terjemahan baru) yang paling banyak digunakan dan “Aku datang untuk memberi hidup. Hidup yang penuh dan baik” (versi lain). Sebagaimana dalam bahasa Inggris ada dua bentuk versi terjemahan: “I came that they may have life and have it abundantly” (English Standard Version) dan “I have come that they may have life, and have it to the full” (New International Version). Perbedaannya terletak pada tafsiran “limpah” dan “penuh”.

        Ada pertanyaan yang menggelitik, pilih hidup yang berkepenuhan atau hidup yang berkelimpahan ? Kenapa harus memilih salah satu ? Kenapa tidak pilih keduanya? Berkepenuhan bukan sesuatu yang jahat. Berkelimpahan bukan dosa. Keduanya independen. Jika berkepenuhan sekaligus berkelimpahan, sungguh sebuah sinergi yang luar biasa.

           Kita bisa berkelimpahan namun tidak berkepenuhan. Bisa juga berkepenuhan tetapi tidak berkelimpahan. Yang paling indah adalah berkepenuhan dan berkelimpahan. Bisa juga penuh dan berlimpah. Karena berkepenuhan dan berkelimpahan bisa terjadi bersamaan, tidak harus berurutan. Yang dimaksud adalah bahwa berkepenuhan dan berkelimpahan memenuhi dua hal yang tidak berbeda.

        Ibarat berkepenuhan adalah untuk memenuhi kebutuhan setiap hari, maka esensi penuh adalah lengkap, tidak ada sesuatu yang kurang. Berkepenuhan dalam hidup, bermakna hidup yang bahagia, tenteram, damai, menikmati hidup, sehat, tidak tertekan, tidak cemas dan tidak khawatir.

       Sementara itu ibarat berkelimpahan adalah untuk membagi dan meneruskan, maka esensi kelimpahan adalah meluber, untuk sesama yang lain. Berkelimpahan dalam hidup bermakna hidup yang inklusif-altruistik, terbuka, mementingkan kebaikan dan kebahagiaan bersama, menjadi bagian dari sesama, tidak untuk diri  sendiri dan tidak mementingkan diri sendiri.

         Hidup yang utuh itu berkepenuhan dan berkelimpahan. Hidup yang utuh itu tidak kosong, tidak kosong dirinya, tidak kosong hatinya, tidak kosong pikirannya, tidak kosong jiwa raganya dan tidak kosong materinya. Hidup yang utuh itu tidak kurang, tidak kurang dirinya, tidak kurang hatinya, tidak kurang pikirannya dan tidak kurang jiwa raganya.

      Kembali lagi pada pertanyaan, pilih hidup berkepenuhan atau berkelimpahan? Tidak perlu dipilih namun perlu dipahami kedua penafsiran itu. Berkepenuhan dan berkelimpahan bukan pilihan ambil satu. Justru keduanya harus diraih. Apa artinya bila berkepenuhan tetapi tidak membagi? Apa artinya bila berkelimpahan kalau tidak penuh?

 

****

 

Pada mulanya adalah sabda. Ego veni ut vitam habeant et abundantius habeant , Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10). Demikian motto yang dipilih Uskup Surabaya, Msgr. Vincentius Sutikno Wisaksono.

             Kisah di balik penentuan motto tersebut begitu unik. Tiga hari setelah ditunjuk menjadi Uskup Surabaya melalui Duta Besar Vatikan, Msgr. Sutikno pergi ke tempat ziarah Maria, Our Lady Of Manaoag, yang berjarak 200 km dari Manila, Filipina. Saat itu, beliau berdoa di depan Bunda Maria memohon petunjuk supaya dapat memilih motto sesuai dengan kehendakNya. Saat itu beliau mendapat ilham beberapa ayat Kitab Suci, namun masih ragu untuk memutuskan ayat mana yang akan dipilih. Ketika akan berjalan ke luar Gereja, beliau terjatuh di lantai keramik yang berjumlah 10. Beliau seakan memperoleh petunjuk untuk menghitung jumlah lantai itu dan didapatlah motto yang berasal dari ayat Injil Yohanes 10:10.

             ”Saya cenderung kepada hal-hal yang praktis (dibaca pragmatisme), tetapi intuisi saya juga tajam”, demikian sharing Msgr. Sutikno di hadapan para imam praja Keuskupan Surabaya, saat pertemuan Unio di Mojokerto, 8 Mei 2007. Peristiwa penentuan motto pengembalaan Mgr. Sutikno kiranya berasal dari intuisinya yang terbuka dengan kehendak Tuhan sendiri.

             Motto ialah semboyan yang tak lain merupakan prinsip yang menjadi arah dan inspirasi bagi karya penggembalaan di Keuskupan Surabaya. Motto ini akan menjadi pilihan sekaligus pengaman karya Uskup dan gerak bersama Gereja Keuskupan Surabaya. Motto pula yang menjadi cita-cita dan harapan sesuai konteks. Motto, dengan demikian sangat terkait dengan apa yang menjadi kebutuhan-kebutuhan, tujuan hidup dan nilai-nilai yang patut dipegang.